logo Kompas.id
CerpenDi Batang Lunto Panggih Menunggu

Di Batang Lunto Panggih Menunggu

Di dalam ingatan Panggih, perlakuan Bapaknya, Soemarto, masih membekas.

Oleh Ricky A Manik
· 1 menit baca
Memuat data...

Kabut turun setelah hujan semalaman dan bukit-bukit seperti perempuan berkerudung putih dan hamparan lembah dan rumah-rumah warga tampak samar-samar. Panggih berdiri di sana sejak pukul dua dini hari, di pinggir sungai (batang) Lunto, di tengah putih kabut dan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang. Air sungai menabrak batu-batu, mengalir deras dengan suara gemuruh menuju batang Ombilin. Air batang Lunto adalah denyut jantung Sawahlunto yang mengubah tanah sawah menjadi emas hitam dengan segala cerita kelam perburuhan di lobang-lobang tambang dan tansi-tansi para kettingganger.

Sudah satu setengah jam Panggih menunggu Asa Menak. Sesekali ia melihat ke arah jembatan, berharap Asa Menak segera muncul; Sesekali ia menggosok-gosok tangannya dan membenarkan kain yang ia lilitkan di lehernya. Panggih menggunakan dua kain di tubuhnya: satu lagi dikerudungkan ke kepala. Ia yakin bahwa Asa Menak pasti akan menjemputnya dan membawanya keluar dari Sawahlunto; keluar dari tanah yang tak memberi harapan apa-apa baginya; tanah yang hanya meninggalkan kepedihan dan kesedihan. Panggih masih menunggu Menak dengan perasaan kian gelisah. Ia tahu bahwa Menak akan siap menanggung segala resiko demi dirinya, termasuk membayarnya dengan nyawa. Ia tetap menjaga apa yang dipesankan Menak kepadanya: “Tunggu aku di hulu batang Lunto.”

Editor: Maria Susy Berindra
Bagikan
Memuat data..