logo Kompas.id
CerpenIdo dan Laut

Ido dan Laut

Dulu, Ido adalah anak yang ceria. Dibanding dengan kedua saudaranya, Ia adalah anak yang sangat akrab dengan ayahnya.

Oleh Sofianti.
· 1 menit baca

Ia duduk sendiri di tepi laut. Baginya desir ombak seakan nyanyian tak bernada. Dialah Ido seorang pelaut yang tangguh namun rapuh karena masa lalu. Saat ini usianya menginjak lima belas tahun. Ia tak seperti anak-anak pada umumnya, sangat senang dengan bermain dan bertemu teman baru. Ia adalah Ido yang selalu menutup diri dari orang-orang disekitar. Setiap sore ia akan duduk di atas ketapang sambil memandangi lautan. Lamunannya jauh menembus ujung samudera.

“…Ido, masuk nak. Sebentar lagi Maghrib…” lamunannya buyar oleh teriakan sang Ibu. Rumah mereka terletak di bibir pantai tak heran jika masyarakat di sini sangat akrab dengan laut.

Di tengah sedapnya santapan malam, Lauma ibu Ido menatap ketiga anaknya. Rasa haru tiba-tiba saja menghampiri dirinya melihat ketiga anaknya yang sangat lahap menyantap nasi jagung dan juga ikan kerapu bakar buatannya. Untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari dia berjualan nasi kuning ditemani oleh anak pertamanya bernama Musa. Ido adalah anak kedua dan anak yang terakhir bernama Lamma berumur dua tahun. Ketiganya adalah putra terhebat sang ibu. Saat makan malam selesai Lauma memulai pembicaraan.

Editor: Maria Susy Berindra
Bagikan
Memuat data..