logo Kompas.id
BukuJalan Kebahagiaan Menurut...
Iklan

Jalan Kebahagiaan Menurut Psikologi Positif

Psikologi positif merupakan kajian ilmiah yang berbicara tentang kebahagiaan dan kemajuan hidup manusia. Psikologi bisa diterapkan lebih luas untuk sekolah, perusahaan, forensik, bahkan olahraga.

Oleh
Inggra Parandaru
· 3 menit baca

Iklan

JudulPsikologi Positif
PenulisGarvin Goei
PenerbitPenerbit Buku Kompas
Tahun terbit2021
Jumlah halamanviii+192 halaman
ISBN978-623-346-218-1

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/BZmjukgpp2fi2lvaZT6IaWLK6cI=/1024x768/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2FIMG_1410_1638541991.jpg
Kompas

Halaman muka buku berjudul Psikologi Positif

Menurut Martin Seligman, sebelum Perang Dunia II, psikologi memiki tiga misi, yakni menyembuhkan gangguan mental, membuat hidup manusia produktif, dan mengidentifikasi serta merawat talenta individu (Seligman dan Csikszenmihalyi 2000). Psikologi jelas tidak hanya ditujukan untuk orang dengan gangguan jiwa, tetapi juga untuk orang yang sehat secara mental.

Kegelisahan Seligman menghasilkan pemikiran bahwa psikologi bukan hanya untuk menyembuhkan yang negatif, tetapi juga untuk mengembangkan yang positif. Atas dasar pemikiran ini, Seligman membuat gerakan yang disebut ”Psikologi Positif”.

Psikologi positif tidak mendiagnosis gangguan mental, tetapi membantu untuk mengenali diri sendiri. Psikologi positif juga dijuluki the science of happiness (ilmu kebahagiaan). Sebab, apabila dipelajari dengan benar,  yang mempelajari akan merasakan dampak positif dalam hidupnya.

Pengantar mengenai ilmu kebahagiaan ini dibahas dalam buku Psikologi Positif tulisan Garvin Goei (Penerbit Buku Kompas, 2021). Salah satu pertanyaan utama yang diajukan dalam buku ini adalah apa itu kebahagiaan dan bagaimana psikologi positif dapat mengajarkan tentang kebahagiaan?

Proses mencari kebahagiaan sudah ada sejak lama dan merupakan konsep yang abstrak. Pendekatan paling tua yang membahas kebahagiaan adalah pendekatan hedonisme. Pandangan ini menyatakan kebahagiaan dapat diraih dengan cara mencari kesenangan sebanyak-banyaknya dan menghindari rasa sakit sebanyak-banyaknya.

Seiring perkembangan pandangan hedonisme dianggap kurang bisa menggambarkan makna kebahagiaan. Beberapa pertimbangannya, antara lain, individu tidak akan pernah puas dengan kesenangan. Individu hanya akan fokus pada menikmati kesenangan sehingga tidak berkembang.

Pencarian umat manusia mencari kebahagiaan terus berlanjut. Sokrates dengan berpandangan bahwa kebahagiaan sejati berasal dari pengetahuan tentang diri. Pendekatan lain yang cukup berpengaruh dalam mendifinisikan kebahagiaan adalah prinsip eudaimonia yang digagas Aristoteles. Dalam prinsip eudaimonia, tidak semua kesenangan layak dikejar. Bertolak belakang dengan hedonisme, prinsip ini mengajarkan untuk mencari kesenangan sewajarnya dan menekankan pentingnya pengendalian diri.

Ilmu kebahagiaan menurut psikologi positif terbagi dalam tiga tahapan, yakni tingkat subyektif, tingkat individual, dan tingkat kelompok. Tingkat subyektif merupakan tingkatan awal yang sekadar mencari perasaan positif dalam diri kita. Tingkat individual merupakan tingkat lanjutan yang mengajarkan bagaimana menjadi individu lebih baik. Tingkat paling atas adalah tingkat kelompok  yang sudah tidak lagi membahas tentang diri sendiri, tetapi sudah menyentuh dimensi komunitas.

Psikologi positif tidak terhindar dari kritik. Salah satunya menyebut psikologi positif terlalu fokus membahas hal-hal positif dan menjauhi hal-hal negatif. Kondisi ini menjadikan psikologi positif tidak membantu manusia mencapai potensi maksimalnya. Meski demikian, kritik justru membuat psikologi positif terus berkembang. (Litbang Kompas)

Editor:
santisimanjuntak
Bagikan