logo Kompas.id
BukuKomunitas Bergerak Dorong Literasi

Bebas Akses
Minat Baca

Komunitas Bergerak Dorong Literasi

Komunitas punya peran penting untuk menularkan minat baca di lingkungan sekitar. Lebih jauh, komunitas juga dapat memberi dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Oleh SEKAR GANDHAWANGI
· 3 menit baca
Memuat data...
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Anak-anak bermain dan membaca berbagai macam buku di Taman Baca Annelies di Desa Kasepuhan, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (21/10/2020). Taman baca tersebut menjadi bagian dari gerakan komunitas literasi di pesisir utara Jawa.

JAKARTA, KOMPAS — Literasi dan menggugah minat baca publik menjadi perhatian beberapa komunitas. Sejumlah program dan gerakan yang melibatkan partisipasi masyarakat pun dilakukan. Komunitas meyakini bahwa kehadiran mereka harus berdampak bagi publik.

Hal itu yang melatarbelakangi dibentuknya komunitas Peduli Bangsaku beberapa tahun silam. Komunitas itu fokus di bidang literasi membaca. Bermula dari kumpulan sejumlah mahasiswa di kampus, mereka memutuskan menghampiri masyarakat demi menularkan minat baca.

”Gerakan kami dimulai dari hal kecil. Kami mengumpulkan buku yang kebanyakan milik saya dan teman-teman, lalu kami bawa dengan kardus atau keranjang ke lapangan kecamatan. Di sana ada yang jadi ikut membaca hingga menyumbangkan buku,” kata pendiri Peduli Bangsaku, Muhammad Ridwan, Sabtu (21/11/2020), pada diskusi virtual Literasi Mode On seri ke-10 berjudul ”Dari Relawan Literasi hingga Kopi”.

Lapak bacaan sederhana yang dibuka Peduli Bangsaku lama-lama berkembang. Mereka membuat kegiatan-kegiatan lain dengan harapan dapat mendorong literasi di ruang publik. Beberapa kegiatan itu adalah menyelenggarakan malam seni dan literasi, membuat diskusi nasionalisme dan keagamaan, bedah buku, pertunjukan musik, hingga sesi belajar bersama.

Memuat data...
KOMPAS/KOMPAS/DEFRI WERDIONO

Dua warga tengah membaca di Perpustakaan Anak Bangsa di Dusun Karangrejo, Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Komunitas berperan penting untuk memantik minat baca di lingkungan sekitar. Menurut laporan Indeks Aktivitas Literasi Membaca 2019, capaian indeks aktivitas literasi nasional berada di angka 37,32. Angka itu masuk dalam kategori rendah. Hanya sembilan provinsi di Indonesia yang memiliki skor aktivitas literasi membaca di kategori sedang (40-60 poin).

Baca juga : Tidak Ada Kata Terlambat untuk Membaca Buku

Adapun taman baca komunitas Peduli Bangsaku bisa ditemui di Tangerang Selatan, Banten. Peduli Bangsa juga mendirikan Kampung Inggris untuk membantu masyarakat belajar bahasa Inggris. Warga yang ingin belajar hanya perlu membayar biaya pendidikan. Kampung Inggris di Tangsel mengadopsi konsep Kampung Inggris Pare di Jawa Timur.

Selain literasi, komunitas tersebut turut membantu masyarakat saat pandemi. Ridwan mengatakan, mereka menghimpun donasi untuk membantu masyarakat sekitar taman bacaan yang terdampak pandemi.

”Jika selama ini mereka butuh bahan bacaan, kini yang paling mereka butuhkan adalah bantuan berupa sembako. Sebagai komunitas, kami harus bisa hadir sebagai solusi. Jadi, tidak hanya menumbuhkan minat baca saja,” kata Ridwan.

Memuat data...

Kembangkan makna literasi

Ridwan mengatakan, literasi tidak melulu berkaitan dengan membaca. Memahami seni kehidupan pun dinilai sebagai literasi. Mengembangkan makna literasi ia nilai penting karena zaman sekarang publik dituntut adaptif dengan perubahan.

”Literasi juga bisa mengenai kemampuan seseorang memilah informasi yang benar dan salah. Literasi juga berarti mengetahui apa yang baik dan tidak,” katanya.

Baca juga : Konsep Literasi dalam Merdeka Belajar

Pada sesi diskusi sebelumnya, pendiri Rumah Literasi Indonesia, Tunggul Harwanto, mengatakan, program literasi di komunitasnya berdasar pada tiga prinsip. Pertama, program harus berkaitan dengan pendidikan karakter. Kedua, program harus partisipatif atau melibatkan banyak pihak. Ketiga, program harus memberi ilmu baru bagi publik.

”Kami punya cetak biru tentang apa yang harus dilakukan ke depan. Ini juga agar kami menjaga keberagaman sumber belajar. Jangan sampai kami berhenti di buku yang selama ini dianggap sumber belajar tunggal. Sumber belajar bisa ditemukan di mana-mana, baik di pasar, taman, dan sebagainya,” kata Tunggul.

Memuat data...
KOMUNITAS LITERASI FOR EVERYONE

Kegiatan literasi di Kampung Sawanawa, Kabupaten Keerom, Papua.

Literasi pun harus padu dengan teknologi. Tunggul menilai, teknologi merupakan pintu untuk mengakses lebih banyak ilmu. Belum lagi, ada lebih dari 338 juta pengguna ponsel pintar di Indonesia dan 175, juta pengguna internet. Ilmu yang diperoleh dari buku bisa dikonversi jadi produk yang menarik dengan bantuan teknologi.

Baca juga : Manfaatkan Masa Belajar dari Rumah dengan Membaca Buku

Menurut Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Samto, literasi jadi fondasi bagi rakyat Indonesia di abad ke-21 untuk bertahan. Literasi dasar perlu dikuasai anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

”Literasi tak hanya bisa membaca, tetapi juga paham konteks apa yang dibaca dan memanfaatkan kecakapan membaca untuk meningkatkan mutu hidup. Ini harus dimulai sejak usia anak,” ujarnya (Kompas.id, 7/10/2020).

 

 

Editor: Agnes Rita
Memuat data..