logo Kompas.id
Bebas Akses”Aldera”, Wujud Kekuatan...
Iklan

”Aldera”, Wujud Kekuatan Pemuda Mengubah Zaman

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, anak muda memiliki peranan yang cukup besar dalam perubahan zaman. Begitu pun dengan peristiwa 1998 tak bisa dilepaskan dari mahasiswa yang berhasil meruntuhkan rezim Orde Baru.

Oleh
MARTINUS DANANG PRATAMA WICAKSANA
· 5 menit baca

Halaman muka buku berjudul <i>ALDERA</i>, <i>Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1998.</i>
UNDEFINED

Halaman muka buku berjudul ALDERA, Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1998.

Judul: ALDERA, Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1998

Penulis: Teddy Wibisana, Nanang Pujalaksana, Rahadi T. Wiratama

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Tahun terbit: 2022

Jumlah halaman: xx + 308 halaman

ISBN: 978-623-346-684-4

Sepanjang pemerintahan Presiden Soeharto, kekecewaan sering dialami rakyat karena pemerintah dinilai lebih memihak kepada kepentingan pemilik modal. Terlebih, rezim Orde Baru sangat anti terhadap kebebasan berpendapat. Kebijakan politik Orde Baru tersebut menciptakan masyarakat yang tidak memiliki ikatan dengan salah satu partai politik, dengan tujuan mengisolasi partai politik di tingkat akar rumput. Masyarakat pun akhirnya diminta lebih memikirkan kondisi ekonominya sendiri dibandingkan dengan urusan politik kenegaraan.

Kondisi tersebut mendorong mahasiswa untuk melakukan kritik terhadap pemerintahan. Ini salah satu yang pernah dilakukan saat masa pemerintahan Presiden Soekarno yang dinilai sudah keluar dari jalur. Mahasiswa turun ke jalan untuk memprotes kebijakan Bung Karno pada tahun 1966. Kritik terhadap pemerintahan juga dilanjutkan di era Orde Baru yang dinilai gagal memberikan kesejahteraan terhadap masyarakat.

Gerakan mahasiswa di masa Orde Baru tidak dapat dilepaskan dari peran organisasi mahasiswa, salah satunya ”Aldera” atau Aliansi Demokrasi Rakyat. Organisasi mahasiswa tersebut salah satu dari beragam organisasi politik mahasiswa menjelang demonstrasi Mei 1998, seperti SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi), dan Forkot (Forum Kota).

Dapatkan buku ini: Buku Aldera: Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999

Iklan

Menarik saat membaca pengantar dari Nezar Patria dalam buku ini yang menegaskan kata ”demokrasi rakyat” dalam nama Aldera. Nezar Patria menyebut kata tersebut memiliki muatan agenda politik progresif untuk menegakkan demokrasi yang dibungkam. Kata rakyat melambangkan perjuangan untuk kepentingan rakyat yang terus ditekan oleh kekuasaan.

Aldera menjadi salah satu organisasi politik mahasiswa yang cukup menarik perhatian publik. Organisasi mahasiswa ini dikenal cukup berani dalam bersuara dan menunjukkan aksi terang-terangan untuk menurunkan Presiden Soeharto. Tidak hanya itu, Aldera juga tidak bisa dipisahkan dari tokoh bernama Pius Lustrilanang. Bahkan, muncul analogi bahwa Aldera adalah Pius dan Pius adalah Aldera.

Pius Lustrilanang

Nama Pius Lustrilanang dalam dunia pergerakan mahasiswa tidak hanya dikenal sebagai Sekjen Aldera, tetapi juga korban penculikan. Pius sempat menghebohkan Indonesia setelah ia memberikan keterangan sebagai korban penculikan karena dianggap terlalu berani memprotes pemerintahan. Bahkan kesaksian Pius mampu membuat dunia internasional mendesak Pemerintah Indonesia melepaskan aktivis mahasiswa yang diculik.

Penculikan Pius tidak bisa dilepaskan dari aktivitasnya yang menjadi penggerak Aldera serta dukungannya terhadap Megawati Soekarnoputri sebagai pengganti Soeharto. Rupanya aktivitas Pius ini tercium oleh penguasa Orde Baru. Maka, pada 2 Februari 1998, ketika berencana bertemu kawannya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Pius dibawa oleh orang tidak dikenal sambil ditodong pistol.

Pius menceritakan bahwa ia dibawa ke suatu tempat yang tidak ia ketahui. Di tempat tersebut, Pius mendapatkan setruman, pukulan, dan tendangan di sekujur tubuhnya. Bahkan, ia diminta tidur di atas balok es. Pius diinterogasi atas aktivitasnya di Aldera sambil dipaksa menyebutkan siapa saja kawan-kawannya yang terlibat bersamanya. Namun, Pius hanya bungkam untuk melindungi kawan-kawannya agar tidak bernasib serupa dengannya.

Setelah 58 hari Pius dibekap serta dibayangi ketidakpastian antara hidup dan mati, ia dilepaskan pada 2 April 1998. Sebelum dilepaskan, Pius diminta tidak menceritakan penculikannya dan tidak lagi melakukan aktivitas yang meresahkan pemerintahan. Pius pun kemudian diantarkan pulang menuju Palembang, ke rumah ibunya.

Mendengar Pius telah kembali dari penculikan, rekan-rekan di Aldera dan para aktivis meminta Pius mengungkap kejahatan Orde Baru yang menimpa dirinya. Awalnya, Pius ragu karena keselamatannya terancam. Namun, akhirnya, ia menyampaikan keterangan di Komnas HAM pada 27 April 1998. Pius pun meloloskan diri ke luar negeri untuk berlindung dan bercerita kepada dunia internasional tentang kejahatan Orde Baru.

Aldera

Keberanian Pius menceritakan pengalamannya selama diculik tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Aldera yang sudah ia rintis sebagai organisasi yang cukup bernyali pada masanya. Apalagi saat itu Aldera lahir di saat dunia pergerakan mahasiswa dimatikan oleh pemerintahan.

Sejak peristiwa Malari 1974, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membubarkan semua organisasi politik mahasiswa dan Dewan Mahasiswa. Sebagai gantinya, tahun 1978 dibentuk konsep Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan atau dikenal sebagai NKK/BKK. Tentara juga diperbolehkan memasuki kampus untuk membubarkan mimbar bebas mahasiswa yang kerap mengkritik pemerintah.

Kebijakan tersebut membuat gerakan mahasiswa sempat mati suri. Namun, benih-benih kekritisan mahasiswa terhadap Orde Baru tetap dipupuk melalui kelompok studi rahasia. Dalam kelompok itu, mereka mempelajari konsep pergerakan dan ideologi untuk melawan kapitalisme. Selain itu juga muncul pers mahasiswa sebagai salah satu media alternatif di saat media nasional lebih berpihak kepada Orde Baru.

Memasuki pertengahan tahun 1980-an dan awal 1990-an, pergerakan mahasiswa terpecah menjadi dua, yakni gerakan moral dan gerakan politik. Gerakan moral adalah kelompok mahasiswa yang mengedepankan akademis dan tidak mau bergabung dengan kelompok masyarakat di luar kampus. Sementara gerakan politik menitikberatkan pada penyatuan diri antara mahasiswa dan rakyat kecil.

Berawal dari gerakan politik mahasiswa inilah Aldera lahir. Aldera membantu melakukan advokasi bagi masyarakat. Masyarakat kecil acapkali mengalami ketidakadilan terutama karena lahannya digusur oleh pihak pengembang yang didukung oleh pemerintah.

Nilai-nilai tersebut mengilhami Pius bersama dengan mahasiswa yang mayoritas dari Universitas Parahyangan Bandung membentuk Aldera tahun 1994. Sejak itu, Aldera selalu menjadi organisasi politik mahasiswa yang bersuara untuk menghapuskan kemiskinan di Indonesia dan perlunya mengganti Presiden Soeharto yang dianggap telah gagal. Aldera memperlihatkan diri bahwa anak muda mampu memberikan perubahan besar bagi Indonesia. (Litbang Kompas/DNG)

Editor:
SUSANTI AGUSTINA SIMANJUNTAK
Bagikan