logo Kompas.id
Bebas AksesSekolah, Kreativitas, dan...

Sekolah, Kreativitas, dan Merdeka Belajar

Pada prinsipnya, setiap anak adalah pembelajar sempurna dan mandiri. Namun seringkali sistem sekolah menghambat kreativitas karena menuntut kesesuaian hampir sempurna. Sekolah dan guru harus mengubah metode pembelajaran.

Oleh
ROY MARTIN SIMAMORA
· 8 menit baca
Supriyanto

Saya sering mendengar pertanyaan dari guru atau mahasiswa: “apakah sekolah membunuh kreativitas?” Mungkin akan ada banyak jawaban soal itu dan tentu dengan jawaban yang berbeda-beda. Menurut saya, mau sebaik apapun sistem pendidikannya, kurikulumnya, sekolahnya, jika tidak menghasilkan dan mendorong apa pun ke ranah kreativitas, maka semua itu pendidikan yang didapat hanya sia-sia belaka.

Berapa banyak anak yang mengubur impiannya karena dipatahkan oleh ambisi orangtua dan guru-guru mereka bahwa menjadi youtuber, gamer, atau content creator tidak memiliki masa depan yang cerah? Impian yang menyala bagai api itu justru “dimatikan” oleh orang-orang yang seharusnya mendukung mereka. Anak-anak membuang jati diri mereka. Pendidikan kita kemudian menghasilkan manusia-manusia mental follower.

Kreativitas hancur ketika memaksa anak ke jalan tertentu atau mendorong mereka berpikir ke arah tertentu. Alih-alih mempromosikan cara berpikir divergen, pendidikan kita cenderung mengajarkan anak berpikir konvergen. Alih-alih diberi kebebasan untuk menemukan solusi sendiri, anak malah dipaksa untuk menebak apa yang diinginkan guru sebagai jawaban. Zaman sudah berubah dan lompatannya tak terprediksi. Satu-satunya cara untuk menghadapi ketidakpastian zaman sekarang ini adalah dengan menjadi manusia kreatif. Tidak ada cara lain.

Baca juga: Pendidikan Kreatif

"Lahir sebagai artis"

Apabila berkaca dari pengalaman saya, saya akan mengatakan kalau sekolah (memang) membunuh kreativitas dalam banyak hal. Sewaktu saya duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, saya termasuk siswa yang paling buruk pada mata pelajaran matematika—bahkan semua mata pelajaran sains.

Di sekolah dasar, guru matematika saya selalu mengajar dengan satu arah dan monoton. Ketika saya tidak bisa menjawab soal matematika, dia berkata "kau kok bodoh sekali!" tanpa membantu saya memahami soal yang diberikan. Ia lalu memukul pundak saya dengan sebuah rotan panjang sampai memar dan membuat saya takut masuk sekolah.

Trauma itu membuat saya membenci apa pun yang berhubungan dengan matematika. Fakta bahwa saya adalah siswa bodoh di mata pelajaran matematika kemudian tertanam dalam alam bawah sadar saya: “saya memang benar-benar bodoh.” Trauma yang berkepanjangan itu kemudian membuat saya benci menghafal rumus-rumus. Saya membenci apa pun yang berhubungan dengan angka matematis. Akhirnya, nilai-nilai sains di rapor saya menjadi sangat buruk dan peristiwa itu pernah membuat saya kehilangan motivasi belajar.

Seto Mulyadi (akrab dipanggil Kak Seto) selaku Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) memberikan motivasi melalui dongeng kepada anak-anak jalanan siswa Sekolah Master di Depok, Jawa Barat, Senin (18/5/2020). Kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi anak-anak marginal agar tetap semangat dan gembira belajar saat pandemi Covid-19.
RIZA FATHONI

Seto Mulyadi (akrab dipanggil Kak Seto) selaku Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) memberikan motivasi melalui dongeng kepada anak-anak jalanan siswa Sekolah Master di Depok, Jawa Barat, Senin (18/5/2020). Kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi anak-anak marginal agar tetap semangat dan gembira belajar saat pandemi Covid-19.

Bertahun-tahun kemudian saya menyadari bahwa di balik kebodohan yang dilekatkan pada saya itu, saya sangat suka berimajinasi, saya suka musik, saya suka menyanyi, suka menulis, dan suka membaca. Tetapi, dunia saya itu bukanlah dunia yang diinginkan oleh guru-guru saya. Mereka menginginkan saya seperti yang mereka mau, tetapi saya tidak ingin seperti yang mereka maui. Apa pun kata mereka tentang kesukaan saya, dunia saya lebih hidup dengan cara saya sendiri, dan itu adalah dunia yang paling indah yang saya miliki waktu itu. Saya berprinsip: saya boleh gagal dalam satu hal atau dua hal, tetapi saya boleh berhasil dalam banyak hal yang lain.

Faktanya, tidak ada satupun sekolah di dunia ini yang mengajarkan menari dan melukis setiap hari untuk semua anak, sebagaimana kita mengajarkan anak belajar matematika. Kenapa? Saya pikir matematika sangat penting, tetapi begitu juga menari. Anak menari setiap saat jika mereka diperbolehkan menari. Saya juga begitu. Saya tidak suka matematika bukan berarti saya tidak mau belajar matematika.

Faktanya, tidak ada satupun sekolah di dunia ini yang mengajarkan menari dan melukis setiap hari untuk semua anak, sebagaimana kita mengajarkan anak belajar matematika.

Tetapi, apakah adil jika sistem memaksa kita harus belajar matematika sedangkan saya lebih suka menggambar, misalnya? Jika mau jujur, sekolah bukanlah tempat satu-satunya untuk belajar dan mendapatkan pengetahuan. Faktanya, ada banyak manusia kreatif di luar sana bisa berhasil tanpa mendapatkan pendidikan formal seperti sekolah. Mereka disebut sebagai manusia “non-degree.”

Semakin berkembangnya zaman, saya semakin percaya bahwa "setiap anak terlahir sebagai artis". Saya pikir, ucapan Pablo Picasso yang berbunyi "every child were born as an artist” masih sangat relevan di zaman sekarang atau mungkin di masa mendatang. Artinya, anak-anak berhak menentukan pilihannya, merdeka memilih dunianya. Ia berhak menjadi apa pun, menyukai apa pun, dan mencintai apa pun yang dia sukai.

Setiap anak tumbuh dan berkembang dengan potensi yang berbeda-beda. Ada anak yang pintar melukis, berhitung, membaca, berbicara, mengingat, olahraga, bernyanyi, dan masih banyak lagi potensi-potensi yang perlu dieskplorasi dalam diri mereka. Semua dari mereka tumbuh karena kreativitas masing-masing. Inilah yang dinamakan: merdeka belajar.

Pada prinsipnya, setiap anak adalah pembelajar sempurna dan mandiri. Bagaimana mereka hidup di komunitas, sekolah, mengetahui budaya mereka, belajar melalui kerja keras, dan bagaimana mereka nanti ketika belajar di tingkat yang lebih tinggi. Akan tetapi, anak-anak seringkali dibatasi untuk berkreativitas.

Baca juga: Tugas Mulia Guru

Orangtua melarang anaknya untuk belajar salah. Padahal, anak-anak belajar dari kesalahan mereka. Salah bukan berarti anak-anak menjadi salah selamanya. Dari kesalahan anak-anak akan belajar tentang rasa sakit, suka, bahagia dan duka. Karena itu, anak-anak harus belajar dari kesalahan mereka sendiri. Jika mereka tidak belajar dari kesalahan itu, mereka tidak akan pernah menghasilkan karya orisinil. Mereka akan terus-menerus terbelenggu rasa “takut melakukan kesalahan.” Akhirnya, kreativitas mereka menjadi tumpul.

Karena itu, sekolah tidak boleh memaksa setiap anak menjadi seragam. Hanya karena anak-anak gagal dalam satu hal, lantas menjustifikasi mereka "bodoh" dalam segala hal. Terus terang, pendidikan kita sudah seharusnya menghilangkan pelabelan-pelabelan semacam “dia bodoh” dan “dia pintar.” Sekolah juga tidak boleh hanya mengunggulkan satu atau dua pelajaran. Semua mata pelajaran punya porsinya masing-masing; tiap anak punya kelebihan masing-masing. Semua anak tumbuh ke dalam kreativitas. Mereka belajar berimajinasi, mengeksplorasi, dan belajar memecahkannya idenya sendiri.

Para siswa SMAK 1 Penabur, Jakarta, mengikuti serangkaian kegiatan workshop bertema “Finding Opportunity in Creativity”, di sekolah, Jumat (9/6/2017). Mereka bisa memilih pelatihan yang diminati, dengan berbagai pilihan seperti, seperti jurnalistik, penulisan kreatif, fotografi, tata rias, dan film pendek.
ADI MURTY ANTO

Para siswa SMAK 1 Penabur, Jakarta, mengikuti serangkaian kegiatan workshop bertema “Finding Opportunity in Creativity”, di sekolah, Jumat (9/6/2017). Mereka bisa memilih pelatihan yang diminati, dengan berbagai pilihan seperti, seperti jurnalistik, penulisan kreatif, fotografi, tata rias, dan film pendek.

Pembelajaran kaku

Sekolah selalu mencoba menyortir anak-anak ke dalam “tempat” tertentu yang berisi ruang aturan yang luas, mata pelajaran tertentu yang mutlak harus mereka kuasai, pola perilaku yang harus mereka ikuti, cara berpikir tertentu yang harus mereka adopsi. Anak-anak duduk di bangku selama 6 jam selama 5 atau 6 hari seminggu. Mereka selalu mendengarkan instruksi, melakukan tugas, menulis catatan, berkonsentrasi dan patuh.

Di rumah mereka diharuskan mengerjakan pekerjaan rumah dari berbagai mata pelajaran setiap hari. Hampir semua informasi yang mereka pelajari tampak tidak berhubungan dengan lingkungan sekitar mereka. Tidak ada sedikit ruang untuk membuat keputusan sendiri, berbagi pendapat, dan ide-ide mereka. Potensi kreatif dalam diri individu ditekan dan disia-siakan. Akibatnya muncul jargon: “Ikuti aturan yang ada atau jadilah orang buangan!”

Sistem sekolah mendikte suatu bentuk pembelajaran yang terstruktur dan linier, seperti pembelajaran buku teks. Pembelajaran buku teks merupakan pembelajaran pasif. Langkah-langkah harus berurutan, tujuan harus dipenuhi sebelum langkah berikutnya diambil. Pertanyaan siswa, yang berada di luar ruang lingkup pembelajaran, diberhentikan, karena mereka tidak akan diuji untuk itu. Bagaimanapun, hanya nilai yang penting karena merupakan bukti yang dapat diukur dari kemahiran siswa dalam mata pelajaran tersebut. Siswa yang tidak mendapat nilai bagus dianggap tidak dapat menguasai mata pelajaran tersebut.

Sistem sekolah mendikte suatu bentuk pembelajaran yang terstruktur dan linier, seperti pembelajaran buku teks. Pembelajaran buku teks merupakan pembelajaran pasif.

Ketika ruang lingkup pembelajaran terbatas pada satu aliran pemikiran dengan beberapa buku teks pelengkap dan beberapa bacaan yang direkomendasikan, tidak ada kesempatan untuk paparan berbagai materi, khususnya yang menguji pengetahuan yang mereka dapat dan yang mereka alami. Keterampilan berpikir kritis tidak dihidupkan dan tidak dapat dikembangkan. Kemampuan penalaran sangat dibatasi.

Pada kenyataanya, ada banyak kritik terhadap sistem sekolah karena sepertinya belum disesuaikan dengan zaman sekarang atau bahkan diperbaiki. Ide kreativitas hanyalah salah satu topik yang sering dibahas dalam diskusi-diskusi. Bisakah menjadi kreatif memiliki arti yang berbeda bagi orang yang berbeda? Apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kreativitas siswa? Pertanyaan terakhir yang besar adalah apakah cara kerja sistem sekolah mengurangi kreativitas siswa?

Saya rasa banyak dari para pendidik beranggapan bahwa kreativitas memiliki satu arti. Beberapa dari kita mungkin juga mempertimbangkan gagasan bahwa saya dan kita semua dilahirkan dengannya atau dapat dikembangkan. Tak satu pun dari pemikiran ini benar atau salah. Kreativitas bisa tentang imajinasi, ekspresi diri, dan inovasi. Kreativitas juga bisa berarti menggunakan logika dan prinsip-prinsip ilmiah untuk memecahkan masalah. Pasti ada beberapa orang yang lebih kreatif dari yang lain. Itu hanya keterampilan yang dimiliki beberapa orang lebih dari yang lain.

Saya maklum alasan orang mengatakan bahwa sistem sekolah telah menghambat kreativitas karena menuntut kesesuaian hampir sempurna. Namun, meskipun para siswa dipaksa untuk mematuhi peraturan sekolah dan norma perilaku, beberapa sekolah yang pernah saya jumpai berusaha untuk mendorong kreativitas siswanya. Kebanyakan guru-guru di sekolah sebenarnya sangat tertarik untuk membantu siswa mereka tidak hanya belajar, tetapi “belajar bagaimana belajar.”

Mereka ingin para siswa berpikir kritis dan untuk diri mereka sendiri, dan menjadi manusia kreatif, tetapi sistem menghalangi mereka. Ada banyak siswa di setiap kelas sehingga guru tidak punya waktu untuk menilai berbagai proyek yang berbeda dari berbagai pekerjaan siswa, tidak peduli seberapa besar keinginannya. Sebagian besar guru sangat senang ketika seorang siswa memutuskan untuk mengerjakan proyeknya sendiri di luar kelas, atau bertahan setelah kelas selesai untuk mengajukan pertanyaan tambahan karena rasa penasaran yang tinggi.

Baca juga: Cerdas Bernalar, tetapi Tidak Cerdas Berpikir

Jadi, mengapa sekolah membunuh kreativitas? Itu karena sekolah selalu terfokus pada jawaban “benar” ketimbang mencoba pilihan jawaban yang lain. Masalah lain yang muncul: sekolah terlalu fokus pada hasil daripada pada proses, pemahaman, diskusi, perspektif yang berbeda, dan motivasi melakukan sesuatu yang berbeda. Kelas dapat menjadi lebih kreatif jika siswa dapat bermain untuk belajar, bermain untuk menggambar, bermain untuk menemukan, bermain untuk membangun sesuatu, bermain untuk bereksperimen, bermain untuk menyelidiki, bermain untuk memecahkan masalah, bermain untuk mencari informasi, dan bermain untuk mendebat kekuatan dan kelemahan argumentasi yang berbeda-beda.

Sebagai penutup tulisan ini, saya nukil ucapan Pablo Picasso yang sarat makna dan reflektif, berbunyi: “There are painters who transform the sun to a yellow spot, but there are others who with the help of their art and their intelligence, transform a yellow spot into sun.”

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/pqp2Auxhm8sgX2CtiItCpaMXe-k=/1024x1028/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2020%2F12%2F19%2FWhatsApp-Image-2020-12-19-at-20.06.42_1608393030_jpeg.jpg

Roy Martin Simamora, Pengajar Filsafat Pendidikan PSP ISI Yogyakarta; Alumnus National Dong Hwa University, Taiwan

Editor:
YOVITA ARIKA
Bagikan