logo Kompas.id
β€Ί
Bebas Aksesβ€ΊSosok Misterius di Goa Karst
Iklan

Sosok Misterius di Goa Karst

Di tengah aula goa yang megah itulah keanehan mulai terjadi. Satu per satu teman menghilang. Awalnya, staf KPHP yang berjumlah tiga orang. Tak lama, salah seorang rekan jurnalis. Lalu diikuti perginya satu teman lain.

Oleh
IRMA TAMBUNAN
Β· 6 menit baca
Salah satu goa di Desa Mersip, Limun, Sarolangun, Jambi, Selasa (16/11/2021). Lebih dari 200 goa di kawasan Karst Bukit Bulan menjadi sumber air penting bagi masyarakat. Goa-goa ini juga memiliki potensi ekowisata yang menarik untuk dikembangkan.
Kompas/Irma Tambunan

Salah satu goa di Desa Mersip, Limun, Sarolangun, Jambi, Selasa (16/11/2021). Lebih dari 200 goa di kawasan Karst Bukit Bulan menjadi sumber air penting bagi masyarakat. Goa-goa ini juga memiliki potensi ekowisata yang menarik untuk dikembangkan.

Angin yang bersemilir di mulut goa seketika membuai kami. Embusan yang sejuk itu bagaikan semburan dari pendingin ruangan di pintu masuk mal. Alhasil, kami terlupa oleh lelahnya perjalanan menuju goa.

"Sambutan" yang tidak biasa itu membuat kami berhenti. Di sela menikmati embusan angin yang sejuk, sempat terlintas pikiran tentang "sambutan" yang terasa agak aneh itu. Sebab, mulut goa itu sebenarnya tersembunyi di antara semak belukar. Dari mana datangnya angin yang menembus belukar?

Namun, lanturan pikiran itu tak berlangsung lama. Setelah puas menikmati embusan angin, kami pun berjalan masuk. Ketibaan kami di goa itu bisa dibilang kesorean karena sudah lewat dari pukul 17.00 WIB. Kata orang desa, tak baik menjelajah goa kesorean karena sebentar lagi hari akan gelap. Apalagi, langit mendadak mendung. Kami pun bertekad takkan berlama-lama di dalamnya.

"Sambutan " yang tidak biasa itu membuat kami berhenti. Di sela menikmati embusan angin yang sejuk, sempat terlintas pikiran tentang "penyambutan " yang terasa agak aneh itu.

Kedatangan kami ke goa ini, November 2021, merupakan bagian dari liputan di kawasan karst Bukit Bulan yang masuk wilayah Kabupaten Sarolangun, Jambi. Butuh lima jam dari Kota Jambi untuk tiba di Kota Sarolangun. Singgah sebentar di kantor Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Limau, kami melanjutkan perjalanan ditemani tiga polisi hutan KPHP, serta seorang pengemudi lokal yang kemudian mengantar kami menuju Desa Berkun di Kecamatan Limun.

Liputan kami saat itu untuk melihat berbagai potensi alam kawasan karst di hulu Batanghari, sekaligus untuk mengetahui ancaman kehancuran lingkungan yang membayang akibat aktivitas tambang di sana. Di selanya, kami singgah di Hutan Adat Bukit Tamulun dan Hutan Adat Batin Batuah di Desa Berkun untuk melihat potensi ekowisata. Kunjungan ke goa ini bagian dari rangkaian liputan.

Kepala Desa Berkun, Sarbawi, yang wilayahnya masuk kawasan karst Bukit Bulan, menyebut begitu banyak potensi alam di sana. Mulai dari hutan adat yang dikelilingi bukit-bukit kapur, air terjun dan sungai yang masih jernih, hingga goa-goa perawan. Semuanya potensial sebagai kunjungan wisata. Namun, potensi itu masih perlu dikelola dan dipasarkan.

Puncak Bukit Tamulun Indah di Desa Berkun, Limun, Sarolangun, Jambi, Selasa (16/11/2021). Potensi ekowisata di kawasan Karst Bukit Bulan menarik untuk dikembangkan. Bila kawasan ini dirusak, segala keindahannya akan lenyap dalam sekejap dan berubah menjadi sumber bencana.
Kompas/Irma Tambunan

Puncak Bukit Tamulun Indah di Desa Berkun, Limun, Sarolangun, Jambi, Selasa (16/11/2021). Potensi ekowisata di kawasan Karst Bukit Bulan menarik untuk dikembangkan. Bila kawasan ini dirusak, segala keindahannya akan lenyap dalam sekejap dan berubah menjadi sumber bencana.

Menurut juru kunci goa, Ali Nafia, goa yang kami kunjungi ini merupakan salah satu potensi ekowisata di daerah itu. Jalurnya terhubung dengan goa lain serta dialiri sungai bawah tanah yang berperan penting mencukupkan kebutuhan air masyarakat di sekitarnya.

Untuk mengeksplorasi kekayaan di kompleks goa dan sungai bawah tanah itulah, kami menelusuri goa-goa di sana. Menurut Ali, goa ini ditemukan oleh seorang penggembala ternak yang biasa membawa kerbaunya menjelajah. Pada suatu saat, ia menemukan goa itu lalu memanfaatkannya untuk mengandangkan ternak.

Baca juga: Silau Emas yang Memutus Persaudaraan di Hulu Batanghari

Mulut goa itu cukup lapang. Lebarnya 20-an meter sehingga memungkinkan masuknya cahaya ke area dalam. Goa itu juga memiliki jalur keluar. Namun, untuk mencapainya, harus melalui susur sungai di dalam goa. Setelah melewati sungai, masih harus memanjat dinding goa sebelum bertemu jalur keluar.

Memasuki goa, kami pun mulai menjelajahi sudut-sudutnya. Mulanya tampak lorong megah yang berhiaskan stalaktit dan stalakmit berwarna putih kelabu. Namun, ornamennya tampak pucat dan kurang berkilau. Mungkin karena letaknya yang masih dekat dengan bagian luar.

Baca juga: Lubang Peluru di Kamar Hotel Wamena

 Salah satu goa di Desa Mersip, Limun, Sarolangun, Jambi, Selasa (16/11/2021).
Kompas/Irma Tambunan

Salah satu goa di Desa Mersip, Limun, Sarolangun, Jambi, Selasa (16/11/2021).

Dengan penerangan senter seadanya, kami mencoba merekam isi goa sedapat mungkin. Juru kunci dan seorang warga lokal membantu penerangan dengan mengarahkan senter dari dua arah.

Menurut Ali, langit-langit goa dihuni oleh kawanan walet. Dulu, ia kerap memanjat dinding goa untuk memanen sarang walet. Harga jualnya menggiurkan. ”Rp 2 juta sekilo. Harga ini agak turun dibandingkan beberapa tahun lalu yang bisa sampai Rp 3,5 juta sekilo,” katanya.

Iklan

Kami terus berjalan semakin ke dalam menuju perut goa. Ada celah ke arah kiri dan kanan. Namun, kami memilih masuk ke bagian utama ruangan goa yang merupakan aula goa (chamber). Ruangan itu tampak luas dan megah seperti lapangan bola.

Baca juga: Kepayang Bawa Sejahtera dari Hulu Batanghari

Terdengar pula suara deras air sungai, tak jauh di depan kami. Di tepi sungai yang letaknya lebih rendah dari bagian lainnya, sejumlah ornamen menampakkan stalakmit dan stalaktit beragam corak dan model. Ada pula yang saling bertumpuk. Tampak air menetes-netes dari atas membasahi ornamen-ornamen itu. Indah sekali kelihatannya.

Di tengah aula yang megah itulah keanehan mulai terjadi. Satu per satu teman menghilang. Awalnya, staf KPHP yang berjumlah tiga orang. Tak lama salah seorang rekan jurnalis. Lalu diikuti perginya satu teman lain. Kami yang semula berjumlah sepuluh kini tersisa lima orang saja.

Baca juga: Maksud Hati Mencari Pramudi, Apa Daya Dipepet Jambret

 Salah satu goa di Desa Mersip, Limun, Sarolangun, Jambi, Selasa (16/11/2021).
Kompas/Irma Tambunan

Salah satu goa di Desa Mersip, Limun, Sarolangun, Jambi, Selasa (16/11/2021).

Menyadari setengah dari rombongan tidak ada lagi, saya segera memasukkan kamera ke dalam tas. Buru-buru menyusul tiga rekan lainnya yang tengah memotret sungai di bawah. Kami kemudian kembali menuju mulut goa tempat masuk tadi.

Setibanya di sana, tak ada lagi angin semilir seperti di awal kedatangan. Suasana di luar mulai gerimis. Tak lama, terdengar suara klakson mobil dari kejauhan seperti memanggil-manggil. Ah, itu pasti panggilan dari rekan-rekan kami.

Kami bergegas menuju arah suara dengan melintasi tepian hutan. Ternyata benar, rekan-rekan kami telah menunggu. Segera sopir tancap gas menuju rumah Baharudin, warga lokal tempat kami menumpang tidur.

Baca juga: Berkali-kali Diusir Tambang Liar Gempur Hutan Desa

Setibanya, kami langsung mengantre mandi dengan benak masih dipenuhi berbagai pertanyaan. Kami menanti giliran mandi sembari menikmati sajian kopi dari tuan rumah. Pada saat itulah sejumlah teman mulai angkat cerita mengapa mereka buru-buru keluar dari goa. Teman A menceritakan pengalamannya melihat penampakan sosok melayang-layang di atas sebuah stalakmit besar. Katanya, sosok itu muncul sesaat setelah kami melangkah masuk aula utama.

Cerita darinya dengan cepat ditanggapi teman B. Rupanya dia pun merasa panik karena seperti ada makhluk yang menguntitnya sangat dekat. Sampai-sampai ia merasakan dadanya sesak. Itulah yang membuatnya cepat-cepat keluar goa.

Adapun teman ketiga yang keluar goa mengaku tak melihat apa-apa. Akan tetapi dirinya merasakan seperti ada embusan mengenai kulitnya sewaktu berada di aula utama. Embusan yang membuat bulu kuduknya berdiri itu ia rasakan sewaktu berada di dekat sungai dalam goa. Ia pun memutuskan cepat-cepat keluar tanpa sempat mengajak rekan lainnya.

Baca juga: Berguru pada Seorang Loper Buta

 Salah satu goa di Desa Mersip, Limun, Sarolangun, Jambi, Selasa (16/11/2021).
Kompas/Irma Tambunan

Salah satu goa di Desa Mersip, Limun, Sarolangun, Jambi, Selasa (16/11/2021).

Dengan berbagai kisah itu, kami pun memaklumi mengapa tiba-tiba sebagian teman mendadak keluar goa. Salah seorang teman lain yang mengaku bisa melihat penampakan makhluk halus bilang, ada yang mengikuti kami sampai ke rumah. ”Dia ngikutin kita sampai ke sini. Tapi tidak bermaksud mengganggu,” ujarnya.

Terang saja ucapannya itu membuat saya takut. Tuan rumah segera mengingatkan kami untuk cepat-cepat mandi. Katanya, membersihkan badan diyakini akan membuat makhluk halus pergi. Percaya tidak percaya, kami semua menjalankan nasihat itu.

Meskipun sebagian dari kami sempat mengalami hal mistis, saya tidak kapok untuk kembali ke sana atau menelusuri goa-goa lainnya.

Malam harinya, sembari menikmati makan malam, tuan rumah kembali menasihati agar lain kali tidak memaksakan diri masuk goa ataupun tempat-tempat tertentu lainnya jika hari sudah terlalu sore. Apalagi, tempatnya di pedalaman karena masih kerap dijumpai hal-hal mistis. ”Juga sering-seringlah berdoa di tempat yang baru didatangi. Jangan sampai takabur,” nasihatnya yang kami amini.

Meskipun sebagian dari kami sempat mengalami hal mistis, saya tidak kapok untuk kembali ke sana atau menelusuri goa-goa lainnya. Demi berbagi kisah tentang hasil karya alam sembari menikmati pemandangan di dalam goa. Keindahan dan keunikan goa-goa itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Tentunya dengan menghindari datang di sore hari...

Editor:
SRI REJEKI
Bagikan