logo Kompas.id
EkonomiDaya Tarik di Tengah Gejolak

Daya Tarik di Tengah Gejolak

Risiko yang dihadapi perekonomian global terus bertambah. Setelah wabah Covid-19, kini perang harga minyak bumi juga menyulut risiko baru. Indonesia mesti bersiap sekaligus menambah daya tarik.

Oleh DEWI INDRIASTUTI
· 1 menit baca

Pekan ini diawali dengan data yang memengaruhi kondisi perekonomian. Harga minyak dunia anjlok. Rusia menolak usulan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau OPEC untuk mengurangi pasokan. Arab Saudi menyambut penolakan Rusia itu dengan menambah produksi minyak, kemudian menjualnya dengan harga lebih rendah.

Senin (9/3/2020) pagi waktu Indonesia, harga minyak mentah jenis Brent turun ke posisi 30-an dollar AS per barel, sedangkan jenis WTI turun ke 35-an dollar AS per barel. Namun, Senin siang harga minyak terus merosot. Pada Senin petang, harga minyak mentah jenis Brent, mengutip laman Bloomberg, sebesar 35,44 dollar AS per barel atau turun 9,83 dollar AS dalam sehari. Sementara, WTI seharga 32,1 dollar AS per barel atau turun 9,18 dollar AS dalam sehari, di pasar tunai.

Bagi Indonesia, ada berbagai konsekuensi yang mesti dihadapi seiring penurunan harga minyak. Salah satunya, realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang akan berkurang. Padahal, dalam APBN 2020, asumsi makro untuk harga minyak siap jual Indonesia 63 dollar AS per barel. Meskipun, di sisi lain, biaya yang dikeluarkan Indonesia untuk mengimpor minyak juga akan berkurang.

Editor: dewi indriastuti
Bagikan
Memuat data..