logo Kompas.id
β€Ί
Artikel Opiniβ€ΊHutan: Laku dan Bunyi...
Iklan

Hutan: Laku dan Bunyi Kekosongan

Hutan menjadi muara kenihilan bunyi. Tak ada tafsir, tak ada konsep, tak ada penataan, ia alami. Bukan berarti tak berbunyi, melainkan memasrahkan diri untuk ditata oleh kehendak-Nya. Manusia agaknya mengadaptasi itu.

Oleh
SUPRIYADI
Β· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/5ks2BsQMJg4rZXfgUYlAcUv-IY8=/1024x576/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F04%2F01%2F35a8b866-ae1b-40b4-b6ed-904fff810461_jpg.jpg

Hutan (di Jawa disebut wana atau alas) agaknya begitu karib dengan manusia Jawa. Sering kali sebuah daerah disemati dengan nama hutan: Wonogiri, Wonosari, Wonosobo, Randualas, dan lain sebagainya. Hijau, belantara, rimbun, satwa liar, terkadang tersurat mitos-mitos di dalamnya. Dalam pewayangan, lakon-lakon yang berkelindan ihwal hutan banyak ditemui. Misalnya, Alas (hutan) Dandaka yang melatari kisah Rama dan Shinta dalam Kitab Ramayana. Alas Wanamarta yang melatari kisah Pandawa dalam Kitab Mahabharata.

Di Jawa, serat-serat yang menyuratkan ihwal hutan juga ditemui. Misalnya Serat Tjemporet yang digubah oleh Ranggawarsita. Mengisahkan Dewi Suretna yang ditolong oleh hewan di hutan. Kemudian, Serat Dewa Ruci yang digubah oleh Yasadipura I. Secara eksplisit, hutan terlibat dalam lakon-lakon yang ada di Jawa. Tidak hanya itu, secara kultural, hutan juga menduduki posisi krusial.

Editor:
YOVITA ARIKA
Bagikan