logo Kompas.id
Artikel OpiniMemperdebatkan Pancasila

Memperdebatkan Pancasila

Kebenaran sejati mengenai Pancasila sehingga usaha-usaha untuk memberikan tafsir tunggal harus dihindari karena akan memunculkan antipati terhadap Pancasila seperti pada masa Orde Baru.

Oleh
YOSEPH UMARHADI
· 1 menit baca
Ilustrasii
Supriyanto

Ilustrasii

Dua artikel yang dituliskan oleh dua guru besar yang sangat dihormati, Prof Heryanto yang kemudian ditanggapi Prof Frans-Magnis Suseno yang “mewanti-wanti” agar Pancasila tidak digunakan seperti pada masa Orde Baru menarik untuk kembali direnungkan. Dari dua artikel itu, kita menangkap kegelisahan dari guru besar yang selama ini menaruh perhatian terhadap masalah-masalah sosial politik di Indonesia, terutama terkait dengan implementasi Pancasila dalam masa pemerintahan Joko Widodo. Pertanyaannya adalah mengapa kegelisahan semacam itu muncul?

Sejak tumbangnya Orde Baru karena krisis ekonomi yang menyulut gerakan mahasiswa pada Mei 1998, tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan Pancasila seolah-olah juga ditolak. Dalam pandangan sementara orang dan terutama di kalangan anak muda, Pancasila Orde Baru adalah otoriter, doktriner, dan digunakan demi membasmi lawan-lawan politiknya. Siapa pun yang menolak rezim dianggap anti Pancasila dan kemudian disingkirkan.

Editor:
YOVITA ARIKA
Bagikan