logo Kompas.id
Analisis BudayaBuku dan Budaya Baca

Buku dan Budaya Baca

Snobisme virtual menjadi buah bibir di media sosial, jauh lebih menarik bagi generasi kini. Para penutur tradisi lisan lokal pudar digantikan pembaca berita dan pelawak di televisi atau pegiat Tiktok.

Oleh
Idi Subandy Ibrahim
· 1 menit baca
Idi Subandy Ibrahim
KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ

Idi Subandy Ibrahim

Laporan Kompas (6/5/2022) menegaskan pandemi Covid-19 kian memukul budaya baca dan penjualan buku di Indonesia. Tak mudah mendorong orangtua dan anak untuk menumbuhkan minat baca dan mencintai buku. Pandemi menggerus daya beli sehingga membeli buku atau bacaan lain jauh dari prioritas. Lagi pula, mengajak anak menikmati buku di perpustakaan atau toko buku bukanlah kebiasaan umum orangtua di Indonesia.

Sorotan atas keterpurukan budaya buku dan budaya baca di negeri ini bukan hal baru. Dalam Nusa Jawa: Silang Budaya (Gramedia Pustaka Utama, 1996),Profesor Denys Lombard, sarjana Perancis dengan kepakaran dalam sejarah Indonesia mencatat, secara umum, orang Indonesia sedikit sekali membaca. Penyebabnya, pertama, rendahnya tingkat melek huruf dan, kedua, sikap menentang setiap bentuk kegiatan perseorangan. Bagi kebanyakan orang Indonesia, membaca sebagai budaya individualisme.

Editor:
MOHAMMAD HILMI FAIQ
Bagikan