TajaKisah Dua Srikandi UMKM, Inovasi Jadi Kunci untuk Bangkit dari Pandemi

Kisah Dua Srikandi UMKM, Inovasi Jadi Kunci untuk Bangkit dari Pandemi

https://d2huqozv2aqnkj.cloudfront.net/wp-content/uploads//2022/06/Ani-Nurdiana-Letes-432x432.jpg

“Selama kita masih bisa dan masih mau berusaha, yakinlah akan selalu ada jalan. Saya yakin itu. Kita mau, kita bisa.”

Pernyataan itu membuka perbincangan dengan Ani Nurdiana, pelaku UMKM di Pasuruan, Jawa Timur. Ani adalah pemilik brand produk Letes Craft yang menawarkan berbagai produk ecoprint dan kreasi kulit. Situasi pandemi tak membuatnya terpuruk. Tak mau berdiam diri. Itu tekad Ani. Ia sadar, banyak yang bergantung pada roda usahanya.

Ani mengajak para ibu yang selama ini terlibat dalam usahanya untuk melakukan inovasi di awal pandemi Covid-19. “Awal pandemi, semua pasti terpuruk. Tapi, saya tidak mau langsung ikut terpuruk karena ada tanggungan, yaitu ibu-ibu yang menjadi karyawan saya.”

Ani lantas mengumpulkan para karyawannya untuk urun rembug, mencari cara untuk bangkit. Pemasaran Letes Craft, yang memproduksi berbagai produk fashion, tidak sebaik pada masa sebelum pandemi. Lalu, ia dan para karyawannya berinovasi dengan memproduksi masker kain.

Kala itu, awal pandemi, kebutuhan akan masker sangat tinggi. Apalagi, sempat terjadi kelangkaan masker. Ani pun memanfaatkan stok kain yang dimilikinya untuk diolah menjadi masker.

Di luar dugaan, order pertama datang dari PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna), dan berlanjut pemesanan dari sejumlah kantor di Jawa Timur. “Sampai saya menambah karyawan sebanyak enam orang dan omzet naik tiga kali lipat,” ujar Ani.

Menilik perjalanan usahanya, Ani menjadikan kegigihan, tak pantang menyerah, dan berani mencoba sebagai kuncinya. Memulai usaha sejak 2010 dengan modal Rp 300.000, bisnisnya kini terus berkembang dengan berbagai inovasi dan selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sejak bergabung menjadi UMKM binaan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC), yaitu pusat pelatihan kewirausahaan yang dikelola Sampoerna melalui payung program keberlanjutan Sampoerna untuk Indonesia, Ani mengaku semakin terpacu untuk mengembangkan usahanya.

“Saya ini modal nekat, modal Rp 300.000 karena waktu itu awalnya usaha itu iseng untuk mengisi waktu luang. Cuma ketika di SETC itu, saya didorong untuk merancang bisnis secara serius. Tidak ada kata tidak bisa. Itu yang selalu ditekankan. Sesuai motto SETC 'Kita Mau, Kita Bisa'. Itu bener banget,” ungkap dia.

Kini, omzet usaha Ani sudah di angka puluhan kali lipat dari modal awalnya. Pandemi juga mengajarkannya untuk mencoba cara pemasaran baru secara daring. Penjualan produk Letes Craft banyak dipasarkan di media sosial Instagram.

Menurut Ani, pelaku UMKM yang bergabung di SETC juga mendapatkan pendampingan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Salah satunya, strategi pemasaran melalui media sosial. Hasilnya, perlahan tetapi pasti, penjualan produk-produk Letes Craft kini menuju normal kembali, seperti sebelum masa pandemi.

SETC sendiri sudah mengembangkan UMKM sejak berdiri pada 2007 atau 15 tahun lalu. Sejauh ini, lebih dari 56 ribu peserta dari seluruh Indonesia telah memperoleh pelatihan kewirausahaan, baik soft maupun hard skill, dari SETC. Seperti Ani dengan Letes Craft-nya, UMKM tidak sekadar diberi pelatihan tapi juga dibina dan diberi pendampingan.

Dulu belajar, kini berbagi

https://d2huqozv2aqnkj.cloudfront.net/wp-content/uploads//2022/06/220620-SETC-Foto-Profil-Bu-Win-5-324x432.jpg

Cerita kegigihan juga datang dari Winarsih, yang memiliki usaha kerajinan rajut dan eceng gondok asal Gempol, Pasuruan, Jawa Timur. Winarsih, yang juga pelaku UMKM binaan SETC, mengungkapkan bahwa pada masa awal pandemi produk-produk jualannya mengalami kemerosotan.

Tak adanya event membuat pemasaran produk terganggu. Namun, ia tak berpangku tangan. Winarsih mencari berbagai peluang yang bisa membantunya keluar dari situasi sulit.

“Nah, saat pandemi itu, SETC banyak memberikan pelatihan dalam bentuk online untuk pengembangan usaha saya, karena selama pandemi ini memang bisnis banyak ‘diam’” ujar Winarsih.

Salah satu pelatihan yang diikutinya di SETC adalah mengenai strategi penjualan melalui online, serta memacu kreativitas untuk berinovasi. Winarsih pun mendapatkan ide untuk berinovasi membuat produk-produk dekor rumah. Menurut dia, ide itu muncul ketika melihat banyak orang yang memilih mengisi waktu di rumah selama pandemi untuk menghias atau mendekor rumahnya.

“Jadi saya mikir, produk apa yang laku dijual saat pandemi? Yang tadinya 100 persen produk dari rajut murni, kemudian beralih home decor,” kata dia.

Produk yang dipasarkan di antaranya terbuat dari eceng gondok dan rajut seperti karpet, alas makan, dan lain-lain. Tak hanya berbisnis, Winarsih kini juga aktif membagikan ilmu yang didapat dari berbagai pelatihan yang diikutinya. Ia memberikan pelatihan seni rajut di berbagai wilayah.

Kepada mereka yang kini tengah berjuang untuk bangkit, Winarsih berpesan, agar memperluas jaringan dan mencari kesempatan untuk mengikuti berbagai pelatihan yang berguna untuk pengembangan usaha. [*]