TajaKenali Perbedaan Bitcoin dan Ethereum sebelum Investasi Kripto

Kenali Perbedaan Bitcoin dan Ethereum sebelum Investasi Kripto

https://d2huqozv2aqnkj.cloudfront.net/wp-content/uploads//2022/08/Shutterstock_Luno-Indonesia-768x432.jpg
(Dok Shutterstock)

Ilustrasi Bitcoin dan Ethereum.

Di dunia kripto, Bitcoin dan Ethereum merupakan dua aset digital yang paling populer saat ini.

Baik Bitcoin maupun Ethereum, dikembangkan melalui jaringan blockchain. Keduanya sama-sama diperjualbelikan di bursa kripto dan dapat disimpan di platform dompet digital.

Meski memiliki kesamaan, ada sejumlah perbedaan Bitcoin dan Ethereum yang cukup signifikan. Jika tertarik untuk berinvestasi pada kedua aset kripto ini, berikut ini, perbedaan yang perlu Anda ketahui.

Perbedaan fungsi

Dilihat dari segi fungsi, Bitcoin dan Ethereum memiliki perbedaan. Secara umum, Bitcoin memiliki fungsi sebagai “uang digital”. Karena memiliki nilai yang cukup tinggi di pasaran, Bitcoin dapat digunakan sebagai alat tukar dan instrumen investasi.

Meski demikian, Bitcoin tidak dimiliki oleh perusahaan mana pun. Aset kripto ini juga tidak terikat dengan lembaga keuangan atau perbankan tertentu.

Saat diluncurkan pada 2009, penciptanya, yakni Satoshi Nakamoto, ingin menjadikan Bitcoin sebagai alat yang bisa digunakan untuk bertransaksi dengan mudah di dunia digital.

Sementara itu, Ethereum didirikan oleh enam orang ahli di bidang kripto pada 2014. Mereka adalah Vitalik Buterin, Gavin Wood, Jeffrey Wilcke, Charles Hoskinson, Mihai Alisie, Anthony Di Iorio, serta Amir Chetrit.

Melalui Ethereum, mereka memanfaatkan teknologi blockchain untuk menciptakan sistem keuangan yang tidak terpusat alias decentralized finance (DeFi).

Selanjutnya, Ethereum dikembangkan dengan sistem smart-contract supaya dapat digunakan di berbagai bidang, mulai dari non-fungible token (NFT), perbankan, properti, hingga kesehatan.

Supaya dapat terus beroperasi, Ethereum membutuhkan sumber daya besar supaya teknologi mereka bisa digunakan oleh banyak orang.

Pada 2015, Ethereum meluncurkan token digital bernama Ether (ETH). ETH ini bisa diperjualbelikan sebagai aset digital di bursa kripto. Sebagian keuntungan dari platform ini digunakan untuk menjalankan Ethereum.

Jumlah ketersediaan

Perbedaan Bitcoin dan Ethereum yang lainnya adalah dari jumlah  pasokan. Bitcoin boleh dibilang merupakan “emas digital” karena jumlahnya terbatas. Hal ini membuat nilainya cenderung menanjak dalam jangka panjang seiring dengan meningkatnya permintaan dan menurunnya persediaan.

Saat ini, jumlah Bitcoin hanya dibatasi sebanyak 21 juta. Bila sudah habis ditambang, Bitcoin baru tidak akan dirilis untuk menambah pasokan layaknya mata uang.

Sejumlah ahli memperkirakan, Bitcoin terakhir akan selesai ditambang sekitar 2140. Untuk mengontrol sirkulasi, Bitcoin dikontrol menggunakan sebuah metode bernama halving.

Melalui metode tersebut, reward yang didapat para penambang Bitcoin akan berkurang setengahnya setiap empat tahun sekali atau setiap 210.000 Bitcoin selesai ditambang. Dengan demikian, ketersediaannya tidak akan cepat habis.

Hal tersebut berbeda dengan Ethereum. Ethereum tidak menentukan batasan spesifik soal jumlah ETH yang akan dirilis dalam jangka panjang. Pasalnya, ETH menjadi salah satu “bensin” yang mendorong operasional Ethereum supaya tetap berjalan. Selama Ethereum masih berfungsi, ETH pun akan terus dirilis

Meski demikian, Ethereum menetapkan jumlah maksimal ETH yang dikeluarkan setiap tahun, yakni 18 juta.

Lebih ramah lingkungan

Selama ini, aktivitas penambangan kripto kerap menuai kontroversi karena konsumsi listrik yang tinggi. Hal tersebut berdampak pada tingginya emisi karbon dari setiap penambangan aset kripto.

Seperti diketahui, emisi karbon menjadi salah satu penyebab pemanasan global. Hal ini membuat aktivitas perdagangan Bitcoin dan Ethereum tak luput dari protes para aktivis lingkungan.

Mempertimbangkan hal tersebut, Ethereum mengubah sistem validasi transaksi mereka yang berbeda dengan Bitcoin.

Sistem tersebut menggunakan algoritma baru yang membuat proses mining ETH jadi lebih efisien. Dengan demikian, emisi karbon yang dikeluarkan menjadi lebih sedikit.

Namun, patut diketahui bahwa saat ini proses penambangan Bitcoin jauh lebih ramah lingkungan. Ini karena hampir 60 persen penambang Bitcoin telah menggunakan energi yang terbarukan. Di antaranya yaitu panas bumi, tenaga matahari dan angin.

Itulah sejumlah perbedaan Bitcoin dan Ethereum. Setelah mengetahui perbedaan keduanya, aset kripto apa yang menarik bagi Anda untuk dijadikan instrumen investasi?

Apa pun pilihannya, Anda harus melakukan riset dengan matang dan berinvestasi secara bijak. Jangan lupa, gunakan platform crypto exchange yang legal dan terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), seperti Luno Indonesia.

Dengan Luno, Anda bisa mulai berinvestasi pada aset kripto seharga es kopi, yakni Rp 25.000.

Catatan:

Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang kripto, bukan rekomendasi ataupun ajakan investasi. Untuk mengambil keputusan terbaik dalam berinvestasi, harap lakukan riset yang mendalam sesuai kebutuhan Anda dan pahami risiko yang mungkin terjadi dalam investasi kripto.

Memuat data...
Artikel ini merupakan kerja sama harian Kompas dengan Luno Indonesia.
Iklan