TajaBelajar dari Italia, Cokelat Asal Indonesia Mampu Mendunia

Belajar dari Italia, Cokelat Asal Indonesia Mampu Mendunia

https://d2huqozv2aqnkj.cloudfront.net/wp-content/uploads//2022/09/TAJA-KEMENKUMHAM-Foto-materi-2-664x432.jpg
FOTO DOK KEMENKUMHAM

FOTO DOK KEMENKUMHAM

Cokelat adalah makanan yang cukup banyak digemari masyarakat. Seluruh jenis cokelat merupakan hasil olahan dari biji kakao. Cokelat Modica merupakan salah satu cokelat yang cukup populer di dunia. Berbeda dengan cokelat populer lainnya, Cokelat Modica dibuat dengan kakao dan gula yang dicampur dalam proses pengerjaan dingin, tidak menggunakan lemak tambahan, hanya mengandung cocoa butter yang secara alami ada dalam biji kakao.

Indonesia sendiri merupakan negara yang cukup banyak memproduksi kakao. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kakao di Indonesia sebanyak 706.500 ton pada 2021. Melihat banyaknya produksi kakao di Indonesia ini dapat berpeluang sebagai salah satu potensi unggulan untuk produk Indikasi Geografis (IG) Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM terus berupaya meningkatkan pelindungan IG serta promosi untuk IG kakao terdaftar.

“Dengan bertemu langsung pakar cokelat yang memproduksi cokelat dengan menggunakan bahan baku produk IG unggulan kakao dari kota Modica, kami mendapatkan banyak informasi maupun masukan. Salah satunya, terkait bagaimana kontrol kualitas, promosi, pemasaran, dan proses produksi cokelat di Modica,” kata Direktur Merek dan Indikasi Geografis Kurniaman Telaumbanua, Kamis (22/9/2022), di Sekolah Gastronomi Modica.

Kakao Modica adalah bahan baku cokelat pertama di Eropa yang sudah memperoleh status pelindungan IG. Produksi cokelat dibuat dari kakao eksklusif di wilayah Modica oleh perusahaan yang menggunakan suatu sistem pengawasan yang ketat dan diatur oleh Kementerian Pertanian Italia.

“Indonesia sendiri juga memiliki kakao IG terdaftar, yaitu Kakao Berau sebagai salah satu bahan baku produksi cokelat. Kakao Berau memiliki karakter khas tersendiri, yaitu aroma khas cokelat dan rasa spesifik yang memiliki rasa kacang, buah segar, sepat dan pahit, serta berwarna coklat muda,” jelas Kurniaman.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris DJKI Sucipto menyampaikan dengan adanya keunggulan pada Kakao Berau tersebut menjadikannya sebagai salah satu bahan baku favorit untuk produksi cokelat dalam negeri. Tidak hanya itu, Kakao Berau dari Kalimantan Timur ini juga telah mampu bersaing di pasar Eropa. Hal ini membuktikan bahwa Kakao Berau dapat dijadikan produk unggulan IG Indonesia.

“Setelah melihat bagaimana proses produksi, penjagaan kualitas, serta bagaimana promosi yang dilakukan pada Cokelat Modica, saya berharap Indonesia juga sanggup untuk memproduksi cokelat berkualitas dengan menggunakan bahan baku kakao produk IG unggulan Indonesia,” ujar Sucipto.

Lebih lanjut, ia berharap dengan bahan baku kakao berkualitas produk IG Indonesia ini yang terpenting adalah bagaimana Indonesia tidak hanya menjual produk IG dalam bentuk bahan mentah saja ke luar negeri, tetapi juga dapat memproduksi sendiri serta mengekspor cokelat yang sudah diolah seperti yang dilakukan oleh Italia dan negara Eropa lainnya.

“Apabila Indonesia telah mampu untuk memproduksi sendiri cokelat berkualitas ini akan menjadi nilai jual yang tinggi kedepannya,” imbuh Sucipto.

Menurut Nino Scivoletto selaku Direktur Konsorsium Perlindungan Cokelat Modica, kedatangan delegasi Indonesia bersama perwakilan Dewan Kakao Indonesia serta perwakilan dari Masyarakat Pelindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kakao Berau Kalimantan Timur ini merupakan salah satu upaya kerja sama yang baik dengan konsorsium di Modica untuk menjadi mitra bisnis, yang bisa dikembangkan ke depannya untuk produk cokelat unggulan. [*]

Memuat data...
Artikel ini merupakan kerja sama harian Kompas dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (DJKI Kemenkumham).
Iklan